Bangka Belitung, LaporPak.Co.Id - Di tengah perkembangan ekonomi dan pekerjaan di Kepulauan Bangka Belitung, sektor tambang tetap menjadi primadona bagi sebagian besar masyarakat, sementara sektor pertanian mengalami tantangan perkembangan yang lebih lambat. Hal ini menjadi sebuah permasalahan serius, terutama dalam konteks pangan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Agus Taufik, Deputi Kepala Bank Indonesia Bangka Belitung, mengungkapkan perbandingan antara sektor tambang dan pertanian di wilayah ini saat dalam acara media gathering pada Kamis (21/9/2023). Menurutnya, pekerjaan di sektor tambang tetap menarik minat masyarakat karena hasilnya dapat diperoleh dengan lebih cepat dibandingkan dengan sektor pertanian.
Agus menjelaskan bahwa sektor pertambangan memberikan hasil yang relatif lebih cepat dan memungkinkan individu untuk mendapatkan pendapatan tanpa harus menunggu lama. Sementara itu, sektor pertanian, khususnya yang berkaitan dengan produksi beras, melibatkan proses yang lebih panjang, dimulai dari penyiapan lahan, perawatan tanaman, hingga akhirnya panen. Hal ini membuat sebagian masyarakat cenderung memilih sektor tambang sebagai mata pencaharian mereka.
Namun, Agus Taufik juga menyadari bahwa fenomena seperti kemarau dan El Nino berdampak pada produksi pangan di Bangka Belitung. Beberapa komoditas pangan, seperti beras, bawang, dan berbagai jenis cabai, masih menjadi penyumbang inflasi di wilayah ini.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Bank Indonesia terus mendorong produksi di sektor pangan, dengan melibatkan kelompok tani. Beras, bawang, dan cabai telah panen beberapa kali, dan Agus Taufik menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga dan memperluas produksi pangan.
Pada saat ini, dengan adanya pilihan mata pencaharian lain yang lebih menjanjikan selain bekerja di sektor pangan, masyarakat cenderung akan memilih yang lain. Agus Taufik menekankan bahwa keberlanjutan produksi pangan harus datang dari masyarakat itu sendiri, dan kerja sama antara pemerintah dan petani sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan ini.
Data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan pada Mei 2023 mencatat bahwa terdapat sejumlah komoditas pangan yang belum mencukupi kebutuhan daerah, terutama beras yang memiliki defisit mencapai 82,91 persen. Produksi beras di Bangka Belitung hanya mencapai 30.009 ton, sementara kebutuhan mencapai 175.588 ton.
Selain beras, beberapa komoditas pangan lainnya, seperti kedelai, bawang putih, gula pasir, dan minyak goreng, juga menghadapi tantangan serupa dengan produksi yang belum mencukupi kebutuhan daerah. Hal ini menekankan urgensi untuk mengembangkan sektor pertanian demi memastikan ketersediaan pangan yang memadai bagi penduduk Bangka Belitung. (Sumber : Kompas/KBO Babel, Editor : Lapor Pak)