Semua calon presiden dan wakil presiden adalah mereka yang terbukti memiliki rekam jejak perpolitikan yang baik sehingga pantas diajukan sebagai calon para calon pemimpin bangsa. Idealnya, perjalanan yang menjadi cerminan atau pertimbangan dicalonkannya mereka, baik-baik saja, sebab jika tercela tentu masih banyak anak bangsa lainnya yang lebih baik wawasan, kecintaan dan kebangsaannya.
Namun nama-nama yang bermunculan saat ini terdiri dari sosok-sosok yang jauh dari sifat menarik, sebaliknya yaitu jelek/buruk serta membosankan. Bagaimana tidak, selain pengulangan tokoh yang itu-itu saja, nama yang itu-itu saja tersebut juga jauh dari perbaikan dan peningkatan diri sehingga modal yang melekat padanya juga tidak ada yang baru dan membangkitkan semangat atau sedikit menarik perhatian siapa pun pada politik praktis khususnya PILPRES (Pemilihan Presiden) kali ini.
Alasan lain berupa munculnya beberapa nama di antaranya bermasalah terkait kemanusiaan. Jika PS sudah lama sehingga isu tersebut terhadapnya dianggap sudah usang sehingga dipandang tidak populer lagi untuk dijadikan sekedar bahan serangan, namun MMD tentunya masih hangat dalam ingatan publik, khususnya terkait pembantaian enam laskar FPI, GP aksi bunuh diri di provinsi yang ia pimpin, terus kemudian GRR, memiliki saudara, yang bukannya “bangga sebagai anak presiden” tetapi bangga telah makan babi dan tidak terkena sanksi sosial apa pun.
Sedikit pandangan yang ingin penulis sampaikan, hanya AB yang mumpuni, setidaknya dalam diplomasi penyusunan kata-kata dalam berpidato, orasi, serta diskusi. Kemampuan akademiknya terpakai di sini serta nampak sebatas kemampuan beratikulasi. Hebat! Namun perlu diingatkan, ranah akademik berbeda dengan ranah politik, sosial-masyarakat atau dunia di luar akademik lainnya. Bahkan ada yang mengatakan, “kuliah sangat berbeda dengan dunia setelah kuliah!”
Rakyat indonesia, yang kawasan geografisnya terbentang dan ditengahi di antaranya pulau Jawa, tentunya sedang mencari pemimpin, dengan harga dalam artian umum yang tidak murah, yaitu biaya penyelenggaraan yang mahal, nama NKRI dengan ragam etnis, suku, dan budayanya, serta pengkhususan kesempatan kepada orang-orang pilihan untuk memimpin bangsa ini. Dengan pertimbangan di antaranya tersebut, diharapkan dapat menghasilkan atau “output” yang baik setidaknya sepadan.
Melalui rangkaian perhelatan akbar PILPRES, kita tidak sedang menyerahkan nasib kita kepada orang yang berjiwa sakit sehingga menularkan penyakit kejiwaannya secara secara lebih luas dan terlembaga (kepresidenan), tidak juga sedang mencari penghiburan, terlebih, dari deskripsi khususnya tentang kemanusiaan di atas, tentunya kita tidak sedang secara sengaja mencari atau menunjuk sosok bagian dari pemimpin kita berkarakter fir’aun untuk membinasakan satu dengan kalangan lain di antara kita sendiri, kan?!
Ada apa dengan negeri kita, ada apa dengan mereka para pendiri bangsa kita, ada apa dengan kita, seberapa sehat jiwa kita, ada apa?! Inilah pertanyaan yang kiranya dapat menjadi satu di antara pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul di kepala. Pertanyaan yang menuntut introspeksi secarq mendalam dan sistemik, tidak sekedar uforia yang terus berulang dan hasilnya seringnya membosankan.
Cukuplah kiranya, artinya tidak diharapkan berulang, Indonesia dipimpin oleh makhluk-makhluk Allah bertangan besi, berlidah kelu dan tidak berhati nurani. Cukup! Rasanya kita tidak ingin lagi mendengar kabar yang tidak mengenakkan dari para petinggi negeri ini, atau membaca berita seperti perseteruan antar pejabat, drama permusuhan yang tentunya bukan sebagai suatu permainan. Sudah saatnya berkomitmen untuk membangun negeri ini dengan penuh kesungguhan untuk terciptanya kebaikan bersama.
Perlu disadari, artikel ini tidak sedang memberikan kriteria ideal terkait sosok pemimpin, setidaknya belum kali ini, tidak juga sedang menunjukkan kekurangan dari sistem, penyelenggaraan berikut calon-calon yang terlibat dalam kontestasi tersebut, tidak juga bermaksud untuk mengarahkan dukungan atau menunjuk satu nama ideal sebagai pilihan, tidak.
Hanya saja, penulis memandang penting untuk introspeksi diri sebagai bangsa serta mengambil berbagai pelajaran dan hikmah dari berbagai peristiwa khususnya terkait nyawa atau kemanusiaan, serta menaruh perhatian pada berpikir, tidak sebatas proses namun juga menghargai buah atau hasil darinya, serta tidak dihancurkan dan kiranya dapat senantiasa dijaga. Mungkinkah pemimpin masa depan mampu memperbaiki yang kurang darinya dan melestarikannya?! (*)