BABEL.LAPORPAK.CO.ID - Inflasi di Kepulauan Bangka Belitung (Kep. Babel) telah mencapai tingkat tertinggi di Indonesia pada bulan September 2023, mengalami peningkatan signifikan sebesar 3,55 persen secara tahunan (year on year). Angka ini jauh melampaui angka inflasi nasional, menciptakan tantangan besar bagi Pemerintah Provinsi Bangka Belitung. Dalam upaya mengatasi situasi ini, Pj Gubernur Kep. Babel, Suganda Pandapotan Pasaribu, telah mengumumkan serangkaian tindakan yang akan diambil, dengan dukungan dan saran dari Bank Indonesia (BI).
Pada Jumat (6/10/2023), Pj Gubernur Suganda memimpin Rapat Pengendalian Inflasi di Rumah Dinas Gubernur. Dalam rapat ini, ia mengungkapkan bahwa angka inflasi yang tinggi berasal dari kelompok pengeluaran, dengan kontribusi terbesar dari bahan pokok, terutama beras. Pangkalpinang dan Kota Tanjungpandan menjadi dua kota di Kep. Babel yang mencatatkan kontribusi inflasi yang signifikan, masing-masing sebesar 0,2888 persen dan 0,4030 persen. Situasi ini menciptakan paradoks, karena sebelumnya provinsi ini dikenal dengan tingkat inflasi yang rendah.
Pj Gubernur Suganda sangat menyadari urgensi mengendalikan inflasi dan menjadikan hal ini sebagai fokus perhatian bersama. Upaya pertama yang akan dilakukan adalah bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memeriksa data lebih lanjut terkait kondisi inflasi di wilayah tersebut.
Bank Indonesia (BI) juga memberikan dukungan penuh dan saran untuk mengatasi masalah inflasi ini. Saran dari BI mencakup langkah-langkah jangka pendek, seperti meningkatkan intensitas operasi pasar (OP), pemeriksaan mendalam oleh Satgas Pangan, dan penjaminan harga eceran tertinggi (HET) beras. Selain itu, langkah-langkah akan diambil untuk memantau rantai distribusi dan subsidi angkutan bahan pangan guna mengendalikan harga di masyarakat.
Pj Gubernur Suganda menjelaskan bahwa saat ini persediaan beras di Kep. Babel masih mencukupi, dengan stok mencapai 1500 ton. Namun, jika diperlukan, stok ini akan ditingkatkan untuk memastikan pasokan yang cukup hingga akhir tahun. Upaya juga dilakukan melalui pasar murah dan subsidi untuk memungkinkan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang terjangkau.
Komoditas seperti beras dan ikan menjadi penyumbang utama inflasi selama bulan September 2023 di Kepulauan Bangka Belitung. Gabungan dua kota, Pangkalpinang dan Tanjungpandan, mengalami inflasi sebesar 0,90 persen (month to month) atau 3,55 persen (year on year). Inflasi bulanan utamanya disebabkan oleh kenaikan harga beras, cumi-cumi, dan ikan bulat, sedangkan inflasi tahunan terutama disumbangkan oleh beras, angkutan udara, dan rokok kretek filter.
Deputi Kepala KPwBI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Agus Taufik, menyebutkan bahwa Kota Pangkalpinang mengalami inflasi bulanan sebesar 0,61 persen atau 2,70 persen secara tahunan dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,72. Inflasi bulanan di Kota ini utamanya disumbangkan oleh beras, rokok kretek filter, dan ikan selar, sementara inflasi tahunan disebabkan oleh beras, rokok kretek filter, dan angkutan udara. Kota Tanjungpandan, di sisi lain, mengalami inflasi bulanan sebesar 1,41 persen atau 5,03 persen secara tahunan dengan IHK 121,63. Inflasi bulanan di sini terutama disebabkan oleh beras, ikan bulat, dan cumi-cumi, sementara inflasi tahunan disumbangkan oleh angkutan udara, beras, dan ikan bulat.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bangka Belitung terus memperkuat program-program pengendalian inflasi daerah. Ini termasuk operasi pasar atau pasar murah, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras oleh Bulog, sidak pasar, dan perluasan Kerja sama Antar Daerah (KAD). Hingga September 2023, telah dilaksanakan 204 kali operasi pasar atau pasar murah dan SPHP beras di 7 kabupaten dan kota di wilayah Bangka Belitung. Selain itu, program kerjasama buy to sell komoditas beras melibatkan Bulog, Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) lokal, dan Pemerintah Daerah di Belitung Timur.
Bank Indonesia juga terus bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam mendukung program-program pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Ini mencakup peningkatan luas tanam dan produktivitas komoditas pangan dan hortikultura seperti aneka cabai, bawang merah, sayur mayur, dan ikan air tawar. Upaya ini melibatkan berbagai kelompok tani, pondok pesantren, kelompok wanita tani, PKK, dan mitra lainnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar Bangka Belitung.
Program Kelurahan Tanggap Inflasi di Kelurahan Sinar Bulan dan Kelurahan Bukit Besar, Pangkalpinang, menjadi salah satu upaya dalam mendukung kemandirian pangan. Program ini melibatkan dua Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berfokus pada tanaman hidroponik dan budidaya ikan lele. Hingga September 2023, kedua KWT ini telah melaksanakan 34 kali panen dengan hasil produksi yang signifikan.
Deputi Kepala Kantor Bank Indonesia Provinsi Bangka Belitung, Agus Taufik, menargetkan agar angka inflasi di Bangka Belitung tidak melebihi 4 persen hingga akhir tahun 2023. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada September 2023, tercatat bahwa Bangka Belitung mengalami inflasi year-on-year sebesar 3,55 persen. Untuk mencapai target ini, program-program jangka pendek akan terus ditingkatkan frekuensinya. Pemerintah daerah akan menggunakan dana insentif daerah (DID) dan anggaran lainnya untuk mendukung program-program pengendalian harga yang bersifat jangka pendek.
Selain langkah-langkah jangka pendek, Pemerintah akan menjalankan program-program jangka menengah dan panjang. Salah satu usulan adalah subtitusi ikan laut dengan ikan budidaya. Hal ini bertujuan untuk memberikan opsi lain kepada masyarakat saat terjadi volatilitas harga ikan tangkap, selain ayam, beras, atau daging sapi. Sosialisasi bertahap ke masyarakat juga menjadi salah satu langkah penting dalam menjalankan program-program ini.
Dalam mengatasi inflasi yang tinggi, Bangka Belitung juga melihat potensi besar pada ikan budidaya. Hasil produksi yang selalu memiliki pembeli dan permintaan yang tinggi menunjukkan bahwa masyarakat siap menyerap produk ikan budidaya. Subtitusi ini diharapkan dapat membantu menjaga angka inflasi Bangka Belitung agar tetap berada dalam kisaran target yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu 3+1 persen. (Sumber : Bangka Pos, Editor : KBO Babel)