Iklan
SCROLL TO CONTINUE
Mode Gelap
Breaking News Memuat berita...
Iklan

Opini: Simulakra Politik – Bayang-Bayang yang Menentukan





Oleh : Eddy Supriadi 

Dalam era digital dan demokrasi yang semakin spektakuler, politik bukan lagi semata soal gagasan dan realitas, melainkan tentang citra, representasi, dan permainan tanda. Kita hidup dalam zaman simulakra, seperti yang dipikirkan Jean Baudrillard—di mana representasi politik tidak lagi merujuk pada kenyataan, tapi menciptakan realitasnya sendiri. Simulakra politik adalah dunia di mana topeng lebih menentukan dari wajah, dan narasi lebih penting daripada bukti.

Tokoh-tokoh politik tidak lagi diukur dari integritas atau kerja nyata, tetapi dari seberapa baik mereka tampil di media sosial, seberapa kuat tim buzzer mereka bekerja, atau seberapa menarik framing yang mengiringi langkah mereka. Kita tidak memilih sosok, kita memilih image. Dalam debat, visi-misi menjadi ornamen; yang dinilai adalah retorika, gaya tubuh, dan viralitas.

Lembaga survei pun sering kali bukan lagi alat pembaca aspirasi, melainkan produsen persepsi. Realitas dikalahkan oleh persepsi yang diproduksi secara sistematis. Politik hari ini adalah simulasi terus-menerus—kampanye adalah panggung sandiwara, pemilih adalah penonton yang tidak tahu mana naskah dan mana yang spontan.

Namun bahayanya bukan hanya manipulasi. Yang lebih fatal adalah ketika publik ikut larut dan tidak lagi peduli pada kebenaran. Mereka puas dengan representasi. Mereka tidak meminta perubahan nyata, hanya ingin merasa terwakili secara simbolik.

Simulakra politik menciptakan masyarakat yang sinis, apatis, dan pada akhirnya permisif. Ketika bayang-bayang bisa menang, maka wajah-wajah yang tulus akan selalu tenggelam.

Mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar pendidikan politik, tapi pembongkaran panggung—membuka ilusi, menelanjangi retorika, dan kembali pada kesunyian realitas yang sering dikubur oleh gemuruh tanda-tanda palsu. (*)
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Iklan