Tempilang, Bangka Barat — Kamis (20/11/2025), sebuah rumah semi permanen di RT 01 Desa Sangku, Kecamatan Tempilang, ludes terbakar pada Kamis petang sekitar pukul 17.30–18.30 WIB. Tujuh jiwa penghuni rumah itu, empat perempuan dan tiga laki-laki selamat, namun seluruh harta benda, uang tunai, dokumen, dan kendaraan hangus dilalap api. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Kebakaran yang diduga dipicu korsleting listrik itu menghanguskan bangunan dalam waktu kurang dari satu jam. Tak ada korban jiwa, namun api yang cepat membesar membuat penghuni hanya sempat menyelamatkan diri tanpa membawa apapun.
Di tengah kepulan asap pekat dan bunyi kayu yang patah terbakar, seorang perempuan lansia bernama Siti (78) yang dikenal warga sebagai Nenek Siti, menjadi saksi pertama munculnya api.
Perempuan yang lahir tahun 1947 itu awalnya berada di dalam rumah ketika melihat kilatan api menyambar bagian bangunan. Dengan napas tersengal, ia langsung berlari keluar sambil berteriak meminta pertolongan.
“Beliau keluar sambil teriak-teriak minta tolong. Untung cepat warga lihat,” ujar seorang warga di lokasi kejadian.
KTP milik Nenek Nisa menjadi satu-satunya dokumen identitas yang berhasil ditemukan di antara puing-puing kebakaran. Surat-surat penting lain, termasuk uang tunai, habis terbakar tanpa sisa.
Begitu mendengar teriakan Nenek Nisa, warga Desa Sangku langsung berdatangan membawa ember, selang air, dan peralatan seadanya. Api yang besar membuat mereka harus bekerja keras selama hampir satu jam sebelum akhirnya berhasil dipadamkan.
Tim gabungan dari TNI, Polri, staf Kecamatan Tempilang, perangkat desa, serta para relawan turut membantu. Anggota Tagana Bangka Barat, Rusli dan Dwi Handoko, serta petugas BPBD/TRC Bangka Barat, Megi Putra, juga turun tangan mengamankan area dan memastikan tidak ada korban terjebak.
Foto-foto dari lokasi kejadian menunjukkan bagaimana rumah itu sudah tinggal rangka dan bara, sementara warga bekerja dalam kondisi penuh asap hingga malam hari.
Bangunan yang terbakar adalah rumah semi permanen. Kayu yang menjadi struktur utama mempercepat merambatnya api, sementara bagian belakang rumah sudah rata dengan tanah saat petugas tiba.
Motor yang terparkir, uang tunai, perabot rumah tangga, serta dokumen keluarga musnah tak tersisa. Hanya puing hangus yang tertinggal.
Di tengah kesedihan kehilangan rumah, keluarga korban masih terlihat terguncang namun bersyukur semua jiwa berhasil diselamatkan. Api yang membumbung, suara teriakan warga, hingga bau asap pekat menciptakan suasana mencekam yang terekam jelas dalam foto-foto di TKP.
Namun di balik tragedi itu, muncul kekuatan sosial: gotong royong warga desa yang bekerja tanpa komando, saling bahu-membahu menyelamatkan satu sama lain.
Hingga malam, aparat desa dan kecamatan masih melakukan pendataan kebutuhan darurat bagi keluarga yang terdampak. Para relawan berharap bantuan logistik segera disalurkan agar keluarga yang kehilangan tempat tinggal ini dapat bertahan dalam beberapa hari ke depan.
Tragedi ini menjadi pengingat betapa rentannya bangunan semi permanen terhadap korsleting listrik, terutama di permukiman padat. Warga berharap ada perhatian pemerintah agar kasus serupa tidak terulang. (Belva/KBO Babel)






Social Footer