Oleh : Faidatul Hikmah-Mahasiswa Magister Hukum Universitas Bangka Belitung
Bangka Belitung - Di tengah riuh rendah perdebatan soal Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), generasi muda Indonesia sering kali hanya mendapat satu narasi tunggal: nuklir itu berbahaya. Publik dicekoki cerita Chernobyl dan Fukushima, serta bayang-bayang kelam Hiroshima–Nagasaki. Tragedi itu terus diputar ulang tanpa konteks, tanpa memahami fakta ilmiah terbaru, dan tanpa menengok sejauh mana teknologi nuklir telah berkembang hari ini.
Padahal, dunia sedang bergerak cepat menuju energi bersih. Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Uni Eropa bukan hanya membangun reaktor baru, tetapi berlomba menjadi pusat teknologi nuklir modern—mulai dari reaktor modular kecil (Small Modular Reactor/SMR), radiofarmaka untuk kesehatan, hingga teknologi isotop untuk industri dan pertanian.
Sementara itu, Indonesia masih sibuk memperdebatkan mitos dan ketakutan. Kita mudah menyebut kata radiasi, tetapi jarang bertanya: sebenarnya apa manfaat besar PLTN dan nuklir bagi masa depan bangsa? Lebih jarang lagi: apa peluang karier yang bisa diciptakan oleh industri nuklir?
Karena faktanya sederhana, PLTN bukan hanya soal listrik. Ini tentang masa depan karier generasi muda Indonesia.
*Bonus Demografi Tapi Pengangguran Naik*
Pada 2025—tahun yang disebut sebagai gerbang puncak bonus demografi—Indonesia justru masih bergulat dengan masalah serius: pengangguran muda.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia mencapai 4,85% dengan 7,46 juta orang menganggur pada Agustus 2025. Menurut World Economic Outlook IMF (April 2025), tingkat pengangguran Indonesia berada di 5% dan diprediksi naik menjadi 5,1% pada 2026. BPS mencatat, pada Februari 2025 terdapat 7,28 juta penganggur dari 153,05 juta angkatan kerja, meningkat dibanding Februari 2024. Berdasarkan tingkat pendidikan, lulusan SMK menempati posisi tertinggi pengangguran, disusul SMA, universitas, diploma, SMP, dan SD.
Ironisnya, TPT justru turun ke 4,76%, tetapi ini bukan kabar baik sepenuhnya—penyerapan kerja naik hanya karena peningkatan penduduk bekerja lebih cepat daripada peningkatan jumlah pengangguran.
Artinya jelas, Lapangan kerja baru tidak tumbuh secepat jumlah generasi muda yang siap bekerja. Dan di sinilah pertanyaan besarnya muncul. Mengapa Indonesia Tidak Melirik Industri Nuklir sebagai Motor Ekonomi Baru?
Jika negara lain menjadikan teknologi nuklir sebagai pintu karier masa depan—dari insinyur, fisikawan medis, ahli hukum energi, teknisi radiofarmaka, perencana kebijakan, cybersecurity nuklir, hingga analis keselamatan radiasi—mengapa kita hanya sibuk memperdebatkan bahaya?
Mengapa tidak melihat peluang emas bagi generasi muda untuk menjadi Engineer reaktor PLTN; Ahli keselamatan dan proteksi radiasi; Radiopharmacist dan teknisi nuklir untuk layanan kesehatan; Peneliti isotop untuk pertanian dan industri; Pakar hukum energi dan kebijakan nuklir; Legal analyst energi; Teknisi maintenance dan telekomunikasi reaktor; Cybersecurity untuk fasilitas nuklir; Ekonom energi dan analis kebijakan publik; Edukasi publik, diplomasi energi; Rekayasa benih & iradiasi pangan; Peneliti reaktor, material, bahan bakar; Rekayasa benih & iradiasi pangan dan masih banyak lagi lainnya dan hampir semua lini “jurusan” dibutuhkan. Ketika berbicara tentang PLTN, sebagian orang mengira kariernya hanya untuk anak teknik nuklir. Padahal ekosistem industri nuklir sangat luas.
Bayangkan generasi muda Indonesia menjadi ahli nuklir yang dicari dunia. Bayangkan Indonesia punya industri radiofarmasi sendiri, tidak harus impor obat kanker yang mahal. Bayangkan petani kecil mendapatkan benih unggul berbasis nuklir yang tahan penyakit dan meningkatkan produksi pangan nasional.
Semua itu mungkin—asal kita berani mulai.
Di negara lain, bekerja di sektor nuklir adalah prestisius, bergaji tinggi, dan stabil. Tapi di Indonesia? Kata “nuklir” saja masih membuat banyak orang takut tanpa tahu.
Teknologi nuklir modern telah jauh berkembang. Reaktor baru dirancang dengan sistem keselamatan pasif, artinya mampu mematikan dirinya sendiri tanpa campur tangan manusia ketika terjadi kondisi darurat. Bahkan, Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) mendukung pembangunan reaktor generasi baru seperti Small Modular Reactor (SMR) dan micro-reactor yang modular, fleksibel, dan dapat dirakit di pabrik sehingga lebih cepat dibangun dan jauh lebih murah.
Dua reaktor baru di Pabrik Vogtle di Georgia, AS—reaktor pertama yang dibangun kembali setelah 30 tahun—mempekerjakan 9.000 pekerja saat konstruksi dan menciptakan 800 pekerjaan permanen ketika beroperasi pada 2023-2024. Ini bukti nyata bahwa nuklir bukan hanya mesin, tetapi ekosistem pekerjaan masa depan.
Jika Indonesia membangun PLTN, ribuan anak muda Indonesia akan mendapat lapangan kerja baru, mulai dari bidang teknik, hukum, ekonomi, riset, komunikasi, hingga keamanan siber. Tapi karena kita belum berani melangkah, semua peluang itu hanya ditonton dari jauh.
Mengapa Anak Muda Perlu Peduli? Karena energi adalah masa depan peradaban.
Dan generasi muda hari ini adalah generasi yang akan mewarisi krisis iklim jika kita tidak berbuat apa-apa.
Sumber energi fosil makin menipis. Krisis listrik di berbagai daerah masih terjadi. Pembangkit listrik tenaga surya dan angin memang penting, tetapi tidak stabil—bergantung cuaca dan membutuhkan lahan sangat luas. Sementara PLTN bekerja 24 jam nonstop, tidak menghasilkan emisi karbon, dan punya densitas energi jauh lebih tinggi dari energi lain. Perbandingannya sederhana:
1 kg uranium ≈ energi dari 1.500 ton batu bara
PLTN membutuhkan lahan jauh lebih kecil dibanding energi surya atau angin
Emisi karbon nuklir hampir 0 selama operasional
Kalau begitu, apa alasan kita masih takut? Karena ketidaktahuan menciptakan ketakutan, dan ketakutan melahirkan penolakan.
*Tantangan yang Nyata dan Harus Diselesaikan*
Bukan berarti nuklir tanpa tantangan. Biaya pembangunan reaktor konvensional memang mahal, bisa mencapai miliaran dolar, dan membutuhkan waktu konstruksi bertahun-tahun. Inilah alasan sebagian negara lambat bergerak. Proses perizinan, persetujuan regulasi, dan penyesuaian teknis juga membutuhkan ketelitian ekstrem.
Tapi masalah tersebut sedang dipecahkan dengan teknologi modern. DOE mengembangkan program Light Water Reactor Sustainability (LWRS) untuk menurunkan biaya operasional, memodernisasi sistem pembangkit, dan memperluas fungsi nuklir—tak hanya listrik, tetapi juga:
Desalinasi air laut, solusi air bersih di pulau-pulau; Produksi hidrogen hijau; Sterilisasi peralatan medis; Pengobatan kanker dan radiofarmasi; Pengembangan benih unggul pertanian.
Mereka bahkan mengembangkan bahan bakar tahan kecelakaan (accident-tolerant fuel) yang meningkatkan keselamatan dan mengurangi limbah.
Sementara Indonesia? Kita masih sibuk berdebat tanpa dasar ilmiah, sambil menonton negara lain melesat.
*Mengajak Generasi Muda Berpikir Waras dan Berani*
Indonesia tidak akan maju jika terus dikuasai ketakutan. Negara besar tidak lahir dari narasi bencana, tetapi dari keberanian menciptakan terobosan.
Nuklir bukan bom. Nuklir adalah teknologi.
Bom atom menggunakan prinsip yang sama dengan listrik, tapi hasilnya berbeda karena desain dan tujuan berbeda. Sama seperti pisau—bisa dipakai memasak, bisa dipakai melukai. Bukan pisaunya yang jahat, tapi manusianya.
Jika kita ingin Indonesia berdiri sejajar dengan negara maju, kita butuh generasi muda yang berani berpikir ilmiah, bukan terjebak rumor dan trauma sejarah yang tidak relevan di era teknologi modern.
*Saatnya Berpihak pada Masa Depan*
PLTN bukan sekadar proyek energi. PLTN adalah gerbang peradaban baru.
Bagi anak muda, ini bukan hanya isu politik atau teknologi, tetapi kesempatan hidup—kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan layak, berkontribusi terhadap bangsa, dan menyelamatkan bumi dari krisis iklim. Jadi, ketika seseorang berkata: “Jangan bangun PLTN! Itu berbahaya!” Jawablah dengan tenang: “Berbahaya itu ketidaktahuan. Nuklir memberikan masa depan.”
Karena jika generasi muda Indonesia terus takut, maka negara lain akan mengambil peluang yang seharusnya milik kita. Nuklir adalah masa depan. Pertanyaannya hanya satu: Apakah kita siap melangkah, atau kita akan ketinggalan? (*)






Social Footer